Indahnya Lisan yang Terjaga

Kemarin disaat saya sedang berkutat dengan laptop dikamar kos, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar. Saya membukakan pintu kamar , tiba-tiba saja teman saya itu bercerita dengan emosi dan tanpa jeda. Dia bercerita seperti menuntut suatu jawaban atas ceritanya dan perlakuan yang dia dapat terhadap saya. Dia adalah teman sekos saya yang masih tergolong muda. dia bergabung dikos saya yang memang sebagian besar penghuninya adalah mbak-mbak yang jilbabnya lebih panjang dan lebih lebar darinya. Dia jangankan memperlebar jilbabnya, memakai rok saja dia jarang dan memakai kaos kaki kalau kuliah saja. Ya saya tahu betul dan saya pernah berdiri dalam fase itu sebelumnya, ketika saya baru masuk disini.

Dia bercerita dengan emosi yang menggebu hingga nyari menangis. Dia bercerita tentang temannya yang sudah dia anggap lebih tinggi pengetahuan agamanya menyakitinya berkali-kali. Dia sering dituntut memakai rok dan jilbab yang lebar lengkap dengan kaos kaki. Ketika dia lupa memakainya, temannya akan menyindirnya habis-habisan. ketika dia tidak bisa datang dalam pengajian bersama temannya, dia akan mendapat pesan (sms) yang mengintrogasinya dan tidak sungkan menuduhnya berbohong. Akhirnya dalam ceritanya tersebut dia mengakhirinya dengan berkata.

” aku tau kak, dia bermaksud baik padaku, dia menginginkan yang terbaik buatku. tetapi kenapa dia caranya seperti ini? aku berkata jujur dibilang berbohong. aku tau kak memang sesama muslim wajib mengingatkan. haruskah seperti itu caranya? aku mau berubah tapi aku tidak bisa langsung seperti itu”

Dari perlakuan yang dialami teman kos saya tadi, saya jadi teringat dengan artikel yang beberapa waktu lalu saya bagikan yaitu tentang kekerasan verbal. artikel kemarin berisi tentang kekerasan verbal dalam rumah tangga kalau ini bedanya adalah kekerasan verbal dalam berdakwah atau dalam hubungan pertemanan. Kalau mungkin saya diposisi adik kos saya tersebut saya akan langsung meninggalkan teman saya itu. menurut pendapat saya, dia siapa berani bilang saya berbohong dengan tegas dan lantangnya ketika saya memang berbicara jujur?. kedua, siapa dia berani menjudge saya ini itu , sedekat apapun hubungan saya dengannya, dia tidak akan pernah tau rasanya menjadi saya, meski saya sudah bercerita semua yang saya alami.buat apa saya berteman dengan teman yang malah membuat saya tidak semangat menuju kebaikan dan malah membuat saya malas untuk menjadi lebih baik.

Saya pernah dulu mengalami yang sama dengan adik kos saya, ketika saya masih berkuliah s1. saya dan teman-teman niatnya mau belajar membaca al-qur’an ala qiro’ah yang berlagu. Saya dan teman-teman pada pertemuan pertama masih mendapatkan apa yang kami carai, namun setelah pertemuan kedua dst, mbak yang ngajar kami hari pertama tidak bisa hadir,, lalu digantikan dengan “diskusi” dengan pengkaderan aliran hitz waktu itu di universitas kami.Pada pertemuan kedua diskusi, pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan serasa tidak sinkron dengan apa yang saya pelajari sebelumnya. Dan tentu tidak memuaskan saya. Lalu saya dan teman2 akhirnya berhenti dan tidak hadir lagi karena yang disamnpaikan tidak memuaskan apa yang dibenak kami, selain itu juga berbeda dengan apa tujuan kami sebelumnya yaitu belajar al-qur’an.

Ternyata tidak cukup sampai disitu kekecewaan kami. kami selalu disms kenapa tidak hadir ini dan itu. kami bilang kami sudah tidak mau hadir lagi. setelah itu barulah banyak berondongan tausiyah sindiran yang membrondong setiap hari. Tentang hukum tidak mau belajar, dll. Sindiran secara langsung juga ada. Ya, dalam keadaan saya waktu itu, itu adalah sindiran yang membuat saya lebih malas untuk bergabung bersama mereka. Terkadang, kalau tidak sengaja bertemu mereka mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar dan tatapan yang seolah kami bukan golongan mereka yang pantas. Ya,mereka seperti mengekslusifkan diri.

Akan tetapi ketika saya mengingat saya bertemu teman-teman saya yang benar-benar mensupport saya dan memotivasi untuk menjadi selalu lebih baik, membuat saya sadar akan pentingnya santun dalam mengajak dalam kebaikan. Meskipun, niatnya yang baik namun caranya yang salah akan berakhir sia-sia. Mereka tidak pernah memperlihatkan bahwa saya lebih hina dari mereka, mereka selalu mempunyai cara untuk datang mengajak saya ke majelis ilmu. Ketika saya ijin tidak bisa datang bersama, alih2 menyindir, dan menghakimi saya malas. mereka mendoakan agar pekerjaan saya saat itu segera selesai. Rasanya ingin berkumpul lagi dengan mereka secepatnya karena hanya doa dan kata-kat indah yang terlantun tidak ada hinaan atau ejekan.

Dari pengalaman yang saya alami tersebut saya jadi merenung panjang tentang ini. semua niat yang baik memang harus dilakukan dengan cara yang tepat dan baik. Penahanan lisan untuk tidak mengatakan yang menyakitkan kepada orang lain serta tidak hanya dengan kata-kata. Dengan perbuatan kita yang bisa membuat orang lain menirunya adalah lebih baik tentunya. seperti wasiat Rasulullah SAW, suri tauladan adalah guru yang terbaik. saya juga sadar ketika mendengarkan nasihat dari ust Salim .A.Fillah

“jangan sampai gara-gara perkataan kita atau perbuatan kita , seorang hamba menjauh dari Rabbnya”

sungguh dosa besar kita, apabila mengajak orang menuju kebaikan dengan niat yang baik, tetapi dengan cara yang salah, orang itu malah menjauh dan enggan lagi atau trauma dengan majelis ilmu dan hal2 yang menuju kebaikan.

wallahuaa’lam itu adalah pengalaman yang ingin saya bagi, dan dakwah versi saya yang menurut saya yang benar. Merangkul menuju kebaikan dan saling mendoakan. Banyak juga metode dan cara dakwah yang lain yang tanpa melukai hati oranglain. semoga bermanfaat dan dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.

kalau ada kesempatan nanti saya akan menulis tentang perjalanan dari celana menuju rok yang memang tidak mudah see you.

with love

ceri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s