Setahun lalu adik saya pergi ke jogja khusus untuk menonton premiere sebuah film. Saya menemaninya menukarkan struk pembayaran dengan tiket. Penukaran tiket dilakukan H-1 sblum pemutaran film. Diwaktu itu peserta mendapatkan stiker dan memilih tempat duduk. Kami datang pukul 16:30, penukaran dimulai satu jam sebelumnya. Ada 4 lembar kertas yg mewakili denah duduk masing-masing teater. Ada 3 teater yang sudah terisi hampir penuh dengan tersisa deratan baris terdepan. Satu teater kosong belum terisi sama sekali.

PT(pnjual tiket): mbak, silahkan dipilih tinggal shaf depan aj mbak yang kosong.

S(saya): mbak,ini teater 4 msih kosong,saya mau ini yg deret belakang atau tengah.

PT: maaf mbak yg k4 belum dibuka,boleh dipilih nunggu yang 1,2,3 penuh dan ini tinggal shaf depan.

S: sistemx koq gtu, kalau mmg kayak gtu sistemx saya datang aja sekalian jam5 sore.nggu yg terakhir dibuka.kalau niat kasih pilihan yg pling cepat bisa milih ya dibuka keempatx breng mbak,bru yg dluan bisa plih dimanapun selagi kosong.koq nggu penuh satu2?

PT: udah y mbak diterima aj ya mbak ini saya kasih yg nomer depan y mbak biar cepet.

S: mbak km $#&##%#&#&-##+61($-$+#)))@)@)

Akhirnya,saya pulang dengan omelan sepanjang jalan. Tibalah saat pemutaran film, satu kata kacauuu!!! Banyak penonton yang tercatat dengan kursi sama, fatal sekali. Ada bapak2 dan sekeluarga pulang,akibat kursix sudah dipakai penonton lain yang juga memegang nomor tiket yg sama. Gak mgkin bapak ini mw rebutan eyel2an ama anak abg. Dan bnyak sekali kekacauan hmpir disetiap teater. Ada yg blm dpat tiket smpe akhirx ditengah film bru bisa masuk lalu pemain yang datang tidak sesuai janji sebelumnya.

Dari kejadian itu saya pun merenungi, dengan sistem penukaran tiket hanya dengan kurang lebih 250orang hanya lingkup kota jogja saja, pembuatan sistem yang tidak matang sangat merugikan dan mendzolimmi banyk orang. Sistem dari penukaran kebutuhan sekunder bahkan tersier yaitu nonton film. Semua orang tidak semuanya melakukannya.
Bagaimana kalau itu adalah kebutuhan primer semua orang? Kewajiban semua orang melakukannya. Kewajiban membuat KTP, mengurus passpor, SIM dll. Berapa banyak hati yang tersakiti, berapa banyak hak manusia yang terdzolimi?

Saya jadi teringat video bu Risma yang memarahi staff pembuat e-ktp. Sayang tidak semua pemimpin berpikir pakai hati seperti beliau.
Selain diribetkan dengan sistem,belum lagi dengan pungli dri pengemis berseragam.

Beban jadi pemimpin dan pegawai negeri bergaji uang rakyat itu ngeriii, beban amanahnya tak tanggung2 tapi heranx banyak yg pengen memikulnya,bahkan rebutan.
Semoga semngat ngejarnya adalah untuk surga akhirat bukan surga dunia.

Semua pekerjaan juga ada tggjawab masing2: pengajar di universitas swasta, kalau gabut juga dibayar pake spp, sppnya yang bayar orgtua mhsswa, yg bisa jadi mereka ngumpulin buat spp dari buruh harian,tulang becak,penjual nasi keliling dll.Kalau bayangin juga ngeri sendiri mw aneh2 pake fasilitas univ.

Semua punya amanah pekerjaan masing2,beban moral,pertggungjawaban vertikal dan horizontal.
Mari doakan pemimpin2 negeri kita agar amanah dengan pkerjaannya selain kita mendoakan diri kita sendiri dan daripda ribet ngeshare berita provokasi yg belum tentu benarr 😉

#merenungmalam2
#filmyangdiputeradalahfilmislamidenganpemeranhafidzhitzyangrupawan – with Rahma

View on Path

Advertisements

2 thoughts on “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s