Kepergianmu…

blue-valley

#tantangannulis #bluevalley

Jantung yang deg-degan dan pikiran yang fokus menghiasi kelas Metode Numerik siang ini. Ngobrol saja tidak sempat, apalagi membuka handphone. Pembacaan tugas untuk minggu depan selalu menjadi tanda berakhirnya kelas ini. Sambil berjalan keluar kelas, aku membuka handphone yang sedari tadi bergetar dikelas. Ada tujuh sms dan tiga missedcall, aku membukanya satu persatu.

“halo nduk, assalamualaikum”

“nduk dimana? Ini nomor mama yang baru”

“nduk,lagi kuliah ya? “

“nduk, mama lagi belajar pake HP ini sama papamu, hehe”

“mama sms semuanya nduk, mbakmu ama masmu. Hehe”

“nduk, minggu depan pulang kan nduk?”

“nduk…”

Senyum simpul membayangkan ekspresi mama mengetik sms ini. Lalu aku membalasnya.

“iya ma, tadi lagi kuliah ma, g bisa angkat telp. Ini mau kerjakan tugas lagi.hehe”

“iya nduk, kuliah yang pinter”

Setelah saat itu sms dari mama sering sekali terkirim ka HPku. Mulai dari hanya menanyakan kegiatan, kabar, dan kapan pulang. Mama juga jadi sering menelpon dengan Hp barunyauntuk sekedar bercerita. Kegiatan ini menjadi kegiatan rutin sejak tiga hari terakhir ini, karena sebelumnya mama menghubungiku kalau HP papa tidak dipakai.

Aku memasuki semester empat dalam kuliahku. Hari- hari yang dipenuhi praktikum, tugas karena dua minggu lagi sudah saatnya jadwal UAS. Karena kesibukkanku itu, aku hanya bisa membalas beberapa sms mama diwaktu makan siang.

Aku baru menyelesaikan tugas kelompok dikampus malam ini. Saat perjalanan pulang jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, aku ingin menelepon mama tetapi niat itu aku batalkan, karena mama selalu tidur pukul 20.30 atau 20.30 WIB. Besok kan sudah hari jumat, sorenya aku pulang pikirku. Jadi aku memutuskan sabar dan aku letakkan HPku dalam keadaan lowbat dan aku bersiap untuk tidur.

Seusai sholat shubuh aku mencari HPku. Aku berjalan dan mengambil HP berserta kabel pengisi dayanya. Saat aku membuka HP langsung ada 5 missedcall dan sms dari kakak lelakiku yang juga kost tidak jauh dari tempatku kost. Pesannya berbunyi “mas tunggu diluar. Ayo pulang mama sakit”, pesan itu diterima pukul tiga dinihari. Aku langsung menelepon kakakku kembali, dia mengangkat telp dan dengan mengabarkan bahwa mama sakit. Air mata ku pun mengalir deras tetapi pikirankupun dipenuhi dengan deadline tugas dan jadwal kuliah hari ini, entahlah kenapa baru mendengar mama sakit air mataku telah mengucur sederas itu.

Alam bawah sadarku mungkin tahu bahwa mama memang tidak hanya sakit. Setibanya dirumah aku melihat didepan rumahku sudah didirikan tenda dan terpasang bendera putih. Aku berlari masuk kedalam dan aku menemui kakakku dan akupun menangis dipelukkannya. Aku masuk kedalam ruang keluarga yang ditengahnya sudah terbujur kaku jenazah mama yang siap dimandikan.

Bayangan memori itu masih sangat teringat hingga saat ini. Cuplikan demi cuplikan ingatan yang masih tertata rapi meski sudah enam tahun lebih berlalu. Rasa kehilangan yang sangat berkesan dan membekas dalam hatiku.

 “kita akan merasa membutuhkan apa yang kita pernah miliki ketika kita kehilangannya”

itu yang banyak dikatakan orang-orang yang aku temui ketika mereka putus cinta.

Aku merasakan lebih dalam dari kalimat itu. aku yakin semua orang didunia ini tidak akan pernah siap untuk kehilangan.

Apalagi kehilangan orang tua. Seorang anak tidak akan pernah merasa siap untuk kehilangan orang tuanya, meskipun sang anak sudah menikah dan mempunyai anak. Aku membayangkanpun tidak akan pernah sanggup untuk merasakannya, tetapi ternyata takdir berkehendak lain.

1fc77c7764e9c11b609a7436847a5c1f

photo credit : pinimg.com

Ketika aku kehilangan sosok yang sangat istimewa itu tandanya aku harus siap kehilangan:

  • Sosok ibu yang paling aku sayang, yang selalu menjadi penengah aku dan papa.
  • Sosok sahabat , aku selalu pulang dengan berbagai macam cerita tentang guru, teman dan apapun yang aku temui selama tidak bersamanya.
  • Seorang yang selalu menungguku pulang didepan gang rumah kami. Beliau selalu menunggu bis atau angkutan umum yang aku naikki sejak aku SMP. Beliau memang ornag yang paling tidak sabar menyambutku pulang.
  • Doa –doa yang beliau panjatkan padaku dan saudaraku setiap sepertiga malam.

Ahh sudahlah, kalau diajabarkan banyak sekali yang hilang ketika wanita mulia itu pergi.

Beberapa bulan, aku masih berduka sejak kejadian itu. UAS yang dijadwalkan dua minggu setelahnya juga tak kalah hamburadul. Nilai yang turun membuat IPKku terjun bebas karena IP semester ini yang membuatku merasakan menjadi mahasiswa NASAKOM (mahasiswa berIP satu koma). Aku merasa terpuruk karena kejadian itu, tetapi hal yang aku ingat adalah Hidup tetap Berjalan Meski besok tidak ada mama.

o-mother-consoling-daughter-facebook

photo credit : huffpost

Aku mulai bisa bangkit mengejar kembali nilai IPk sebelumnya dengan bekal tekad, mama pasti tidak mau melihatku seperti ini. Semua kejadian adalah kehendak Tuhan, pasti ada hikmah dibaliknya dan aku pasti bisa melalui semua ujianNYA ini. Keyakinan-keyakinan itu mulai aku tulis di diary-ku dan aku sudah mengingatnya dalam hati dan pikiranku.

  1. Aku meyakini semua ini terjadi karena seizinNYA. Aku yakin mamaku adalah orang yang baik, sehingga Tuhanpun tidak sabar untuk bertemu denganNYA.
  2. Banyak kebaikan yang akhirnya hadir dikeluarga kami. Kami yang terdiri empat bersaudara berusaha untuk saling mengakrabkan diri, semua berusaha berperan menggantikan mama untuk adik-adiknya.
  3. Aku meyakini sekarang mama bisa melihatku dimanapun dan kapanpun. Beliau bisa melihatku kuliah, belajar, ngobrol dan lainnya tanpa ada batas lagi seperti dulu. Ini dapat memotivasiku lebih baik lagi dalam bertindak ketika beliau melihatnya. Karena beliauakan selalu dihati.
  4. Aku yakin ini saatnya aku untuk membayar semua yang dilakukannya, berdoa lebih banyak untuknya. Berdoa lebih giat karena beliau telah menunggu doa-doa itu. kasih seorang anak tidak akan pernah bisa membayar semua jasa orang tuanya. Melakukan yang terbaik adalah hal yang wajib dilakukan.
  5. Aku yakin mama meninggal dengan perasaan yang lega. Beliau tidak mengidap penyakit sebelumnya, dan meninggal ketika tertidur pulas tepat pada hari jum’at pukul 2.00 AM disebelah adik dan papaku.

Ketika melihat teman yang bercerita belanja baju bersama ibunya, seorang wanita yang menikah ditemani ibunya dan kegiatan lain yang berkaitan dengan ibu selalu membuatku mengingat tentang rasa kehilangan ini. Keyakinan-keyakinan itulah yang menguatkanku, membayangkan senyumnya ketika aku berhasil menjadi wanita yang kuat.

Semua orang pasti akan merasa kehilangan. Kehilangan itu pasti namun yang harus kita pikirkan adalah apa hal yang bermanfaat yang bisa kita lakukan sebelum kehilangan itu datang.

“Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendie.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s